Meniti Pawitra Pasuruan Berkisah #3 di House of Sampoerna

Meniti Pawitra Pasuruan Berkisah #3 di House of Sampoerna

Meniti Pawitra Sedot Perhatian Pengunjung House of Sampoerna Surabaya

House of Sampoerna selama 1 bulan telah memberikan oase bagi peminat lukisan dengan menghadirkan karya-karya 10 Pelukis Pasuruan yang bertajuk Meniti Pawitra. Sebagian besar pengunjung House of Sampoerna menyempatkan waktunya untuk melihat pameran ini.

meniti-pawitra-sesak-pengunjung

Adalah Achmad Toriq, Afif AF, Agung Prabowo, Hafidz Ramadhan S, Hasan Saifudin, Karyono, M. Medik, Nofi Sucipto, Toni Ja’far, dan Yunizar Mursidi yang menjadi penutur Pasuruan Berkisah #3 kali ini. Mereka dipilih oleh kurator pameran Mr. Zuhkhriyan Zakaria untuk mengusung tema Meniti Pawitra.

pasuruanbiz-bolokulon-hos-1

Kurator pameran memberikan pengantar:

Pasuruan berkisah #3 mengambil tema yang berkaitan dengan Gunung Penanggungan (1.653 meter dpl), dahulu bernama Gunung Pawitra. Istilah Pawitra diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti jernih, suci, bersih. Dapat diartikan Penanggungan merupakan kawasan pusat kegiatan keagamaan serta menjadi gunung suci sejak zaman Mataram hingga Majapahit, abad ke-10 (899 Saka atau 977 Masehi) hingga abad ke-16.

Dilihat dari sisi peninggalan arkeologi, di sekujur lereng gunung ini ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Patirtan Jalatunda, Patirtan Belahan, Candi Kendalisodo, Gapura Jedong, hanya sepersekian bangunan situs percandian dari ratusan situs lainnya. Pawitra juga merupakan penegas adanya akuturasi antara hindu di India cara masuk ke Nusantara dengan segala kearifanya.

Aspek nilai-nilai sosial, politik, budaya dan spiritual melebur jadi satu di Pawitra. Tanpa disadari telah mempengaruhi bahkan menjadi kontruksi dan hidup dalam ketidak sadaran masyarakat maupun nilai keseharian. Baik terserap dalam kelembagaan: pendidikan, etika, hukum, politik, agama, sejarah, arkeologi, tata wilayah, serta lainnya. Dengan menghayati persoalan Pawitra, setidaknya para perupa yang telibat dapat menggali lebih persoalan-persoalan yang akan menjadi subjek matternya.

Daya tarik inilah yang diangkat oleh Achmad Toriq, Afif AF, Agung Prabowo, Hafidz Ramadhan, Hasan Saifudin, Karyono, M. Medik, Nofi Sucipto, Toni Ja’far dan Yunizar Mursyidi dari Komunitas Bolo Kulon sebagai karya seni rupa. Mengambil judul pameran “Meniti Pawitra” menjadi sebuah cara Bolo Kulon dalam mengintrepetasi gejala dan keadaan Gunung Pawitra. Sekaligus tempat yang dekat dan berada dengan daerah kami (Pasuruan Barat).

Semoga akan terwujud tercapainya interaksi antara karya dan pengunjung/apresiator adalah inti dari pameran ini, menghadirkan pengetahuan dengan sudut pandang perupa menjadi tawaran Komunitas Bolo Kulon. Mengambil ruang di House of Sampoerna Surabaya sebagai tempat yang telah menyelenggarakan pameran-pameran berkualitas di Indonesia. Hal menarik lainnya pada arsitektur yang menunjang dalam pemajangan karya, sampai paduan antara tema dan ruang pameran dapat sesuai dan saling menunjang.

Oleh: Zuhkhriyan Zakaria
Pasuruan, 10 Agustus 2016

Perjuangan para Seniman Bolo Kulon mengangkat tema Gunung Penanggungan ini lebih dari sekedar layak diacungi jempol.

Baca: Seniman Pasuruan promosikan Pasuruan dengan biaya Urunan kantong sendiri << klik